Kamis, 01 Mei 2014

Kerusakan Lingkungan Ancam Bekantan

Lembaga pemerhati lingkungan, Greenpeace Indonesia, berharap kerusakan lingkungan yang terjadi Karena adanya Kalan pengampungan dan jalur lalu lintas barubara di Kabupaten Tapi Selatan, Kalimantan Selatan, segera dihentikan.

Hal itu disampaikan Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting. "Nampaknya sangat mengkhawatirkan dan saya harap teman-teman di sana, komunitas warga dan ornop lokal dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan pengrusakan yang sedang terjadi," ujar Ginting kepada Wartawan di Jakarta, Rabu (16/4).

Dijelaskan Ginting, Greenpeace mengadvokasi dan mengajak masyarakat untuk beralih pada pada energi yang terbarukan. "Greenpaeace memang bekerja untuk isu tambang, saat ini fokus pada industri hilirnya yaitu di isu PLTU Batubara. Kami mengadvokasi agar kita berhenti menggunakan batubara dan beralih segera ke energi terbarukan," tutur Ginting.


Warga di sekitar kanal yang dibangun Suharya dengan Tata Group sebagai pemodal, telah menimbulkan kerusakan lingkungan bahkan penyakit. "Dibalik Suharya dan pembangunan kanal, ada Tata Group. Warga menderita penyakit gatal-gatal, debit air sungai yang turun, persawahan juga rusak," ujar Bambang kepada Wartawan, Rabu (16/4).


Warga lainnya, Abidin dan Ismael, ikut mengeluhkan kondisi lingkungan yang makin rusak ini, namun pasrah tidak bisa berbuat apa-apa. "Lingkungan sudah rusak, kami juga sudah tidak melihat Bekantan," keluh Abidin. 


Kanal yang dibangun Suharya atas dukungan Tata Group tersebut, ternyata tidak saja telah merusak lingkungan di daerah Tapin Selatan, juga telah mengusik habitat Bekantan, species monyet berhidung lebar dan panjang. Satwa langka yang dilindungi dan kebanggaan Indonesia yang menjadi Mascot Dunia Fantasi (Dufan). 

http://demo.jurnas.com/halaman/13/2014-04-17/296879 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar