Jakarta, HanTer
- Ketua Greenpeace Indonesia Longgena Ginting berharap kerusakan
lingkungan yang terjadi akibat adanya kanal untuk penampungan dan jalur
lalu lintas batubara di Kabupaten Tapin Selatan, Provinsi Kalimantan
Selatan bisa segera berakhir.
"Nampaknya sangat mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi di sana, dan
saya harap teman-teman di sana, komunitas warga dan ornop lokal dapat
melakukan sesuatu untuk menghentikan pengrusakan yang sedang terjadi,"
ujar Ginting kepada Wartawan di Jakarta, Rabu (16/4).
Dijelaskan Ginting, Greenpeace mengadvokasi dan mengajak masyarakat
untuk beralih pada pada energi yang terbarukan. "Greenpaeace memang
bekerja untuk isu tambang, saat ini fokus pada industri hilirnya yaitu
di isu PLTU Batubara. Kami mengadvokasi agar kita berhenti menggunakan
batubara dan beralih segera ke energi terbarukan," tutur Ginting.
Warga di sekitar kanal yang dibangun Suharya dengan Tata Group sebagai
pemodal, telah menimbulkan kerusakan lingkungan bahkan penyakit.
"Dibalik Suharya dan pembangunan kanal ada Tata Group. Warga menderita
penyakit gatal-gatal, debit air sungai yang turun, persawahan juga
rusak," ujar Bambang kepada Wartawan, Rabu (16/4).
Abidin dan Ismael ikut mengeluhkan kondisi lingkungan yang makin rusak
ini, namun pasrah tidak bisa berbuat apa-apa. "Lingkungan sudah rusak,
kami juga sudah tidak melihat Bekantan," keluh Abidin.
Kanal yang dibangun Suharya atas dukungan Tata Group tersebut, ternyata
tidak saja telah merusak lingkungan di daerah Tapin Selatan, juga telah
mengusik habitat Bekantan, species monyet berhidung lebar dan panjang,
satwa langka yang dilindungi dan kebanggaan Indonesia yang menjadi
Mascot Dunia Fantasi (Dufan). (db)
http://www.harianterbit.com/read/2014/04/16/821/29/29/Kanal-Batubara-di-Tapin-Merusak-Lingkungan
Kamis, 01 Mei 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar