JAKARTA, suaramerdeka.com - Greenpeace Indonesia
menilai kanal untuk penampungan dan jalur lalu lintas batubara di
kabupaten Tapin Selatan, provinsi Kalimantan Selatan telah merusak
lingkungan. Kepala Greenpeace Indonesia Longgena Ginting berharap
kerusakan lingkungan yang terjadi karena adanya kanal tersebut segera
berakhir.
"Nampaknya sangat mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi di sana, dan saya harap teman-teman di sana, komunitas warga dan ornop lokal dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan pengrusakan yang sedang terjadi," ujar Ginting kepada Wartawan di Jakarta.
Dijelaskan Ginting, Greenpeace mengadvokasi dan mengajak masyarakat untuk beralih pada pada energi yang terbarukan. "Greenpaeace memang bekerja untuk isu tambang, saat ini fokus pada industri hilirnya yaitu di isu PLTU Batubara. Kami mengadvokasi agar kita berhenti menggunakan batubara dan beralih segera ke energi terbarukan," tutur Ginting.
Warga di sekitar kanal yang dibangun Suharya dengan Tata Group sebagai pemodal dinilai telah menimbulkan kerusakan lingkungan bahkan penyakit. "Di balik Suharya dan pembangunan kanal ada Tata Group. Warga menderita penyakit gatal-gatal, debit air sungai yang turun, persawahan juga rusak," ujar Bambang.
Abidin dan Ismael ikut mengeluhkan kondisi lingkungan yang makin rusak ini, namun pasrah tidak bisa berbuat apa-apa. "Lingkungan sudah rusak, kami juga sudah tidak melihat Bekantan," keluh Abidin.
Kanal yang dibangun Suharya atas dukungan Tata Group tersebut, dinilai tidak saja telah merusak lingkungan di daerah Tapin Selatan, juga telah mengusik habitat Bekantan, species monyet berhidung lebar dan panjang, satwa langka yang dilindungi dan kebanggaan Indonesia yang menjadi Mascot Dunia Fantasi (Dufan).
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB dan Presidium WWF Indonesia dan pembantu WWF International, Hadi S Ali Kodra mengatakan, lingkungan dan populasi Bekantan kian terancam.
(
Nurokhman /
CN26 / SMNetwork )"Nampaknya sangat mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi di sana, dan saya harap teman-teman di sana, komunitas warga dan ornop lokal dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan pengrusakan yang sedang terjadi," ujar Ginting kepada Wartawan di Jakarta.
Dijelaskan Ginting, Greenpeace mengadvokasi dan mengajak masyarakat untuk beralih pada pada energi yang terbarukan. "Greenpaeace memang bekerja untuk isu tambang, saat ini fokus pada industri hilirnya yaitu di isu PLTU Batubara. Kami mengadvokasi agar kita berhenti menggunakan batubara dan beralih segera ke energi terbarukan," tutur Ginting.
Warga di sekitar kanal yang dibangun Suharya dengan Tata Group sebagai pemodal dinilai telah menimbulkan kerusakan lingkungan bahkan penyakit. "Di balik Suharya dan pembangunan kanal ada Tata Group. Warga menderita penyakit gatal-gatal, debit air sungai yang turun, persawahan juga rusak," ujar Bambang.
Abidin dan Ismael ikut mengeluhkan kondisi lingkungan yang makin rusak ini, namun pasrah tidak bisa berbuat apa-apa. "Lingkungan sudah rusak, kami juga sudah tidak melihat Bekantan," keluh Abidin.
Kanal yang dibangun Suharya atas dukungan Tata Group tersebut, dinilai tidak saja telah merusak lingkungan di daerah Tapin Selatan, juga telah mengusik habitat Bekantan, species monyet berhidung lebar dan panjang, satwa langka yang dilindungi dan kebanggaan Indonesia yang menjadi Mascot Dunia Fantasi (Dufan).
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB dan Presidium WWF Indonesia dan pembantu WWF International, Hadi S Ali Kodra mengatakan, lingkungan dan populasi Bekantan kian terancam.
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/04/17/198746


Tidak ada komentar:
Posting Komentar