Jumat, 10 Oktober 2014

Kasus JIS, Keluarga Korban Datangi Polda Tanya P17

Jakarta, HanTer - Keluarga korban kekerasan seksual di Jakarta Internasional School (JIS) mendatangi Polda Metro Jaya guna menanyakan permintaan perkembangan hasil penyelidikan (P17) dari Kejaksaan terkait kasus kekerasan seksual di JIS yang menimpa anak-anak mereka.

"Kami mempertanyakan, apakah pihak kejaksaan udah meminta berkas dari para penyidik kepolisian? Apakah inisiatif polisi itu sendiri, apa penyidik, atau siapa? Inikan aneh, apakah memang benar P17 sudah ada," ujar TPW, ibu korban pelecehan seksual kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Rabu (17/9) malam.

Perlu diketahui P17 atau Permintaan Perkembangan Hasil Penyelidikan akan dikirimkan penyidik Polda Metro Jaya ke Kejaksaan, sedangkan Kejaksaan sebelumnya telah memberikan waktu 60 hari sebelum P17 dikirimkan. “Padahal Kejaksaan masih beri waktu 60 hari, kenapa tergesa-gesa,” imbuh TPW.

Ketika hendak menghadap Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Unggung Cahyono, Ibu dari AK (6) korban kekerasan seksual ini, di ruang tunggu Kapolda tak mampu membendung air matanya, mengingat kasus yang menimpa anaknya menjadi berlarut-larut, belum lagi adanya korban kekerasan seksual yang menimpa anak-anak lain yang bersekolah di JIS tersebut dan telah terbukti, namun pihak JIS membantah.

"Berkas harus dikirim Kamis besok (18/9), adik suami saya jaksa mengungkapkan belum ada perintah itu. Lantas saya tanya kepada para penyidik yang mengatakan mereka itu perintah direktur. Saya lihat pun para penyidik terlihat stress," beber TPW.

Selain itu pihak keluarga korban dan wartawan sempat melihat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Heru Pranoto bersama pengacara JIS Harry Ponto berjalan bersama ke arah mobil, namun ketika dikejar untuk konfirmasi keduanya sudah buru-buru, bersama-sama menaiki mobil, dan mobil warna hitam tersebut melaju meninggalkan gedung utama Polda Metro. “Tadi kami lihat pak Direktur lagi jalan dengan pak Harry Ponto pengacara JIS, ini ada apa?” keluh TPW.

Ditambahkannya lagi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkait anaknya yang menjadi korban malah bocor ke media asing. “BAP anak saya sudah bocor hingga ke Sydney Morning Herald dan media luar negeri lainnya, bahkan Wall Street Jurnal datang ke rumah saya sendiri, lalu saya tanyakan kenapa BAP anak saya bisa bocor, mereka mengatakan dapat dari pihak sekolah JIS. Kok bisa dengan mudahnya mereka melakukan itu semua,” kisah TPW sembari sesengukan membasuh air matanya di ruang tunggu Kapolda.

Komisaris Polisi Andre selaku sekretaris pribadi Kapolda nampak terus mencatat. Dikatakannya semua laporan maupun keluhan pasti akan ada upaya tindak lanjut dar Kapolda. “Pak Kapolda sedang ada kegiatan lain, tapi kami terima dulu, Kapolda pasti crosscek, cuma pada saat ini pak Kapolda sudah terjadwal pada kegiatan lain. Berbagai keluhan pasti kita tindak lanjuti,” ujar Andre kepada para orang tua korban kekerasan seksual JIS yang masih menunggu di ruang tunggu Kapolda.

Sementara itu DR, ibu dari anak korban lainnya mengatakan kepada sespri Andre, dimana dalam kasus ini pihak mereka makin dipersulit JIS. “Jangan sampai (P17) dikirim besok, saya sampai hampir tidak percaya lagi dengan aparat di negara saya sendiri. Kami ini korban tapi seolah-olah kami yang akan disalahkan,” ucapnya.

Diungkapkan DR, pihak JIS sudah banyak membuat permasalahan yang tidak saja menyulitkan para orang tua korban, tapi juga pihak polisi sendiri. “Pelaku-pelaku ini (cleaning service) sudah mengakui ada korban yang lebih, tapi tidak ingat nama. Polisi minta ke pihak sekolah (JIS), tapi yang dikasih apa? Mereka malah ngasih foto copy foto hitam putih, nah siapa (pelaku) yang bisa mengenali wajah yang tidak jelas begitu. Kita sudah hubungi polisi, kita sudah hubungi DPR, tapi pihak sekolah bilang omong kosong. Sekolah yang justru menyebarkan isu kalau itu omong kosong, hingga ke orang tua murid dari lima anak korban kekerasan seksual di JIS,” pungkasnya.

(Daniel)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar