Jakarta, HanTer - Keluarga korban kekerasan seksual di Jakarta
Internasional School (JIS) mendatangi Polda Metro Jaya guna menanyakan
permintaan perkembangan hasil penyelidikan (P17) dari Kejaksaan terkait
kasus kekerasan seksual di JIS yang menimpa anak-anak mereka.
"Kami mempertanyakan, apakah pihak kejaksaan udah meminta berkas dari
para penyidik kepolisian? Apakah inisiatif polisi itu sendiri, apa
penyidik, atau siapa? Inikan aneh, apakah memang benar P17 sudah ada,"
ujar TPW, ibu korban pelecehan seksual kepada wartawan di Polda Metro
Jaya, Rabu (17/9) malam.
Perlu diketahui P17 atau Permintaan Perkembangan Hasil Penyelidikan
akan dikirimkan penyidik Polda Metro Jaya ke Kejaksaan, sedangkan
Kejaksaan sebelumnya telah memberikan waktu 60 hari sebelum P17
dikirimkan. “Padahal Kejaksaan masih beri waktu 60 hari, kenapa
tergesa-gesa,” imbuh TPW.
Ketika hendak menghadap Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Unggung Cahyono,
Ibu dari AK (6) korban kekerasan seksual ini, di ruang tunggu Kapolda
tak mampu membendung air matanya, mengingat kasus yang menimpa anaknya
menjadi berlarut-larut, belum lagi adanya korban kekerasan seksual yang
menimpa anak-anak lain yang bersekolah di JIS tersebut dan telah
terbukti, namun pihak JIS membantah.
"Berkas harus dikirim Kamis besok (18/9), adik suami saya jaksa
mengungkapkan belum ada perintah itu. Lantas saya tanya kepada para
penyidik yang mengatakan mereka itu perintah direktur. Saya lihat pun
para penyidik terlihat stress," beber TPW.
Selain itu pihak keluarga korban dan wartawan sempat melihat Direktur
Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Heru Pranoto bersama
pengacara JIS Harry Ponto berjalan bersama ke arah mobil, namun ketika
dikejar untuk konfirmasi keduanya sudah buru-buru, bersama-sama menaiki
mobil, dan mobil warna hitam tersebut melaju meninggalkan gedung utama
Polda Metro. “Tadi kami lihat pak Direktur lagi jalan dengan pak Harry
Ponto pengacara JIS, ini ada apa?” keluh TPW.
Ditambahkannya lagi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkait anaknya yang
menjadi korban malah bocor ke media asing. “BAP anak saya sudah bocor
hingga ke Sydney Morning Herald dan media luar negeri lainnya, bahkan
Wall Street Jurnal datang ke rumah saya sendiri, lalu saya tanyakan
kenapa BAP anak saya bisa bocor, mereka mengatakan dapat dari pihak
sekolah JIS. Kok bisa dengan mudahnya mereka melakukan itu semua,” kisah
TPW sembari sesengukan membasuh air matanya di ruang tunggu Kapolda.
Komisaris Polisi Andre selaku sekretaris pribadi Kapolda nampak terus
mencatat. Dikatakannya semua laporan maupun keluhan pasti akan ada upaya
tindak lanjut dar Kapolda. “Pak Kapolda sedang ada kegiatan lain, tapi
kami terima dulu, Kapolda pasti crosscek, cuma pada saat ini pak Kapolda
sudah terjadwal pada kegiatan lain. Berbagai keluhan pasti kita tindak
lanjuti,” ujar Andre kepada para orang tua korban kekerasan seksual JIS
yang masih menunggu di ruang tunggu Kapolda.
Sementara itu DR, ibu dari anak korban lainnya mengatakan kepada sespri
Andre, dimana dalam kasus ini pihak mereka makin dipersulit JIS.
“Jangan sampai (P17) dikirim besok, saya sampai hampir tidak percaya
lagi dengan aparat di negara saya sendiri. Kami ini korban tapi
seolah-olah kami yang akan disalahkan,” ucapnya.
Diungkapkan DR, pihak JIS sudah banyak membuat permasalahan yang tidak
saja menyulitkan para orang tua korban, tapi juga pihak polisi sendiri.
“Pelaku-pelaku ini (cleaning service) sudah mengakui ada korban yang
lebih, tapi tidak ingat nama. Polisi minta ke pihak sekolah (JIS), tapi
yang dikasih apa? Mereka malah ngasih foto copy foto hitam putih, nah
siapa (pelaku) yang bisa mengenali wajah yang tidak jelas begitu. Kita
sudah hubungi polisi, kita sudah hubungi DPR, tapi pihak sekolah bilang
omong kosong. Sekolah yang justru menyebarkan isu kalau itu omong
kosong, hingga ke orang tua murid dari lima anak korban kekerasan
seksual di JIS,” pungkasnya.
(Daniel)
Jumat, 10 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar